Thursday, June 28, 2007

Mari Merenung Sejenak

Harus bilang apa? Dengan kondisi seperti sekarang ini. Jenuh? Lelah? Penat? Ancur? Sekarat? Atau, adakah kata-kata yang lebih pantas untuk mewakili semua yang terjadi belakangan ini. Segalanya terasa serba salah; bertahan dengan pendapat yang telah terutarakan seperti diawal, kita dibilang frustasi atau berfikir negatif dan bahkan bisa dibilang terlalu pisimis. Kalau dicarikan istilah yang berlawanan dengan kenyataan, bisa dibilang berlebihan atau tak memahami kondisi bahkan dapat dibilang "kurang peka!". Lalu? Pada kenyataannya manusia mulai rapuh, mungkin termasuk aku sendiri. Krisis pribadi, krisis jatidiri, bahkan tak sedikit yang krisisi moral. Melengkapi krisis awal yang disebut "krisis moneter" dari beberapa tahun lalu. Rasa-rasanya sejak tahun-tahun itulah perubahan ke arah "keterpurukan" terjadi. Memang, mungkin tidak semua orang mengalaminya apalagi dapat merasakannya, atau mungkinn dapat membenarkan pendapat ini. Itu jelas karena kelompok tersebut sungguh tidak mengalaminya, bahkan mungkin mereka adalah yang diuntungkan dengan kondisi ini. Entahlah!

Bertubi-tubi datangnya bagai "durian runtuh" yang salah tempat. Keberuntungan yang salah arti. Keberuntungan?, YA!!!, Karena kata itulah yang selalu menyertai setiap sikap masyarakat kita akan tiap akibat dari peristiwa yang terjadi."Masih untung.....daripada...", kata-kata inilah yang sering meluncur manis dari bibir-bibir kita tiap kali sesuatu terjadi. Apakan kemudian ini dapat dikatakan sikap optimis atau bahkan implementasi dari "keiklasan". Tak pasti juga. Seringkali "keiklasan" tersebut menjadi semu, karena tak jarang sumpah serapah menyertainya, dan bahkan tangis penyesalan. Kalau seperti ini masih bisakan dikatakan sebagai sebuah "keiklasan".

Penguasa kibuli rakyatnya dengan janji-janji manisnya. Saat "berpesta" tebarkan segudang janji indah. Begitu berkuasa, selalu berdalih kesalahan masa lalu. Bersembunyi dibalik Undang-undang. Mengaku sudah berusaha dan bekerja semaksimal mungkin. Dan pada akhirnya memohon untuk tetap dipertahankan sampai akhir masa jabatan, demi sebuah "presedent baik" katanya.Tidak ada yang mau
mundur dari kedudukan saat terjadi ketimpangan. Selalu saja berkata "saya siap jika diminta mundur". Setelah diminta mundur dia bertanya lagi "kenapa harus mundur?" Dengan segudang pembenaran menyertainya. Tidak pernah ada yang mau instrospeksi terlebih dahulu. Selalu mencari pembenaran dan kambing hitam. Padahal kambing yang bulunya bewarna putih, coklat atau bahkan yang belang, masih banyak, tetap saja cari kambing hitam. Masihkah kita akan selalu mau diperlakukan seperti ini. Kalau tidak? mau bilang apa lagi, kita hanya rakyat biasa yang tidak biasa.

Manusia satu sama lainnya tak jauh berbeda. Nyawa begitu murahnya. Tidak hanya di daerah rawan konflik (?), bahkan sampai ke kampus dan di pesawat terbang. Begitu sulit rasanya mencari tempat yang aman. Bedil sudah mengarah ke dada kita. Dada para demonstran. Bahkan ke arah dada rakyat jelata yang masih di bawah umur. Apa artinya selembar sepanduk, sebuah pentungan kayu, bahkan sebongkah batu jika dibandingkan dengan panasnya timah tajam? Yang siap memburu kita dari jarak yang cukup jauh! Dilengkapi dengan kewenangan mereka. Salah siapa? Demonstran brutal?, perusakan dan bahkan bisa dibilang pemaksaan kehendak liar?. Namun yakinlah ada juga yang murni dengan kepentingan yang layak diperjuangkan. Masyarakat lapar akibat penjarahan disegala bidang. Pelakunya tidak ada, yang terlihat dan jelas tampak dipermukaan hanyalah korban. Korban dari apa? dari siapa?
Tak bisa dijelaskan. Ujung-ujungnya yang dipersalahkan adalah SETAN!

TV, yang sedianya untuk hiburan dan media informasi yang mendidik, tak mau kalah. Juga melakukan serangan telak langsung ke dalam kehidupan kita. Segalanya telah tersaji di dalam ruang makan, ruang keluarga, ruang tidur, bahkan ada yang sampai ke kamar mandi ini bagi yang sangat berduit. Dari gosip murahan, penipuan, pembunuhan, pemerkosaan, teror, fitnah, pembodohan, propaganda bahkan kemaksiatan. Dan banyak lagi, yang merupakan daftar yang sangat panjang jika ditulis semuanya. Segalanya sudah tanpa proteksi. Tergelar dengan gamblang. Tanpa kendali. Sedikit sekali sajian yang benar-benar bermanfaat bagi perkembangan dan peningkatan kualitas hidup. Pemilihan materi dan jam tayang bukan lagi menjadi pertimbangan. Yang terpenting rating, rating dan rating. Anak-anak kita dapat melihat sesuatu yang tak semestinya mereka lihat dan dengar. Tersaji begitu saja, tanpa pilihan bahkan tanpa kendali. Saat ini anak-anak kita dapat mendengar dan melihat semuanya, tanpa filter sama sekali. Siapa yang salah?, Orang tua?, Stasiun TV?, Pengiklan?, Penikmat?, atau kebijakan perlindungannya yang memang benar-benar tidak ada (?). Pada kenyataanya imbasnya sangat besar dan berdampak luas. Karena semua tontonan itu secara langsung atau tidak langsung sangat berpengaruh pada prilaku penontonnya. Perselingkuhan, perceraian, pembunuhan, fitnah, perceraian, pemerkosaan, dan banyak lagi, yang dahulu saat dimasa kecil kita sangat jarang bahkan tidak pernah kita dengar. Sekarang mereka dengan gampang dan tanpa beban dapat mengucapkannya. Yang kadang tidak tahu apa arti dan akibatnya bagi perkembangan mental mereka. Saat ini mata kita terbiasa dengan kemewahan, darah, kekerasan, (semi)pornografi. Pembelajaran prilaku tak baik dan pembodohan banyak tersaji lewat sinetron atau sajian film terutama yang bersifat lokal.Termasuk film-film import, karena tak sedikit saat ini telah tersaji dengan bahasa keseharian kita, Bahasa Indonesia (dubbing), meskipun budaya mereka memang berbeda tetapi denga sulih suara itu terasa sangat lokal. Ini benar-benar pembodohan. Maksudnya mempermudah penikmat tapi tanpa sadar mereka sedang membawa bangsa ini ke dalam lubang kebodohan. "Pemporakporandaan" Budaya. Lihatlah hasilnya yang lebih nyata. Pelaku pembunuhan semakin muda, demikian juga pemerkosaan tak jarang dilakukan oleh anak-anak dan korbannya juga anak-anak. Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa dengan kondisi ini. Atau mungkin memang tidak mau? Tidak juga pemerintah dan lembaga-lembaga yang berwenang. Apalagi rakyat jelata seperti kita. Yang bisa dilakukan hanya merasakan mirisnya hati dan mengelus dada. "Matikan TV!" atau "Ganti Cannel!" juga tak berarti apa-apa. Lalu kapan kita sadar dan akan berbenah? Demi generasi mendatang. Segeralah!

Dunia pendidikan tak kalah "hebohnya". Dari tawuran antar sisiwa, mahasisiwa, sekolah dan sampai atar fakultas. Bahkan tak sedikit tindakan asusila (pornaoaksi) dilakukan oleh para siswa-siswi. Ini dapat dilihat dari beberapa kali "gegeran" tentang terekam dan beredarnya aktifitas seksual dua insan berlainan jenis dari para penuntut ilmu tersebut. Tak perlu disajikan lagi disini daftar kejadiannya, karena semua sudah menjadi konsumsi publik. Tak berhenti sampai disitu, kekerasan fisik dan sampai berakibat kematian juga ada. Celakanya lagi terjadi di lingkungan kampus bergengsi pencetak calon pamong praja. Ditambah lagi dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada dunia pendidikan, dengan dikeluarkannya standar kelulusan nasional. Seolah para pembuat kebijakan tak paham dengan kondisi wilayah Indonesia yang sangat beragam, yang tidak bisa diukur dari satu sisi saja. Pusat berbeda dengan daerah, bahkan satu daerah dengan daerah lainnya pasti berbeda
kondisinya. Yang terjadi kemudian adalah kegerahan, kebingungan, kekecewaan dan bahkan kegamangan akan kualitas kelulusan siswa. Lalu ditambah lagi dengan kebijakan pengatasan permasalahannyapun sering kali berkesan seadanya. Ganti era-ganti kurikulum, ganti mentri-ganti kebijakan, ini merupakan pemandangan umum dinua pendidikan kita. Lantas mau dikemanakan sebenarnya dunia pendidikan ini?

Perpolitikan ramai juga, "banget" bahkan. Siapa yang menjual apa? Siapa yang membeli apa? Siapa yang mewakili apa? Siapa yang diwakili apa? Sudah tak jelas lagi. Hitam-putih jadi tak pasti, abu-abupun tak terwakili. Karena sasaran utama dari semuanya hanyalah KEKUASAAN. Itulah hal yang ter "elit" di bangsi ini. Menjadi Golput rasanya tak elok, menjatuhkan pilihanpun rasanya tak ada pilihan. Kondisi ini bukan bagi para fungsionaris partai dan pelaku utamanya, karena mereka jelas mendapat imbalannya. Tapi bagi kita rakyat jelata, apa yang didapat? Rasanya kok tak ada yang menguntungkan. Yang ada hanyalah pergesekan sesama rakyat jelata yang tak menghasilkan apa-apa. Yang terjadi kemudian adalah "BARA". Kita saling sikut, saling hasut, saling panas dan berujung pada saling pukul dan saling gempur. Ini bukan omong kosong. Tiap kali terjadi hajatan politik, maka akan terjadi kekisruhan, bentrokan masa. Tak jarang bara itu menjadi api yang melalap bangunan. Kenapa bisa seperti itu? Semua terjadi karena masing-masing pelaku polotik BELUM SIAP KALAH.

Dengan semua kondisi itu, maka rasanya wajar jika alampun tak kalah dalam bereaksi. BENCANA! itulah jawabannya. Wabah virus, Tsunami, Gempa Bumi, Angin, Tanah longsor, Banjir, Kecelakaan transportasi, semua tiu adalah serentetan bencana yang sudah terjadi dan mungkin akan terus terjadi. Masih mau lagi?

Namun begitu, rasanya tak ada kata terlambat untuk berbenah, untuk sebuah kebaikan. Marilah saling introspeksi dengan penuh kesadaran. Mulai dengan diri kita masing-masing. Mulailah memahami arti keberadaan diri, apa dan siapa kita, lalu untuk apa kita ada? Dan semua itu harus didasari dengam "TANPA KEAKUAN". Menyadari keberadan orang lain disekitar kita. Memahami hakikat perbedan untuk kebersamaan, diluar kepentingan pribadi, golongan, agama, suku dan ras. Benar-benar demi berbangsa. Demi sebuah "MARTABAT" bersama. Mari kita sama-sama merenung. Untuk sebuah masa depan yang labih baik.

No comments: