
Baru beberapa hari desa ini ku tinggalkan ke Denpasar dan Klungkung, kini saat ku kembali, indra penciumanku dipenuhi semerbak keharuman. Sangat berbeda dari harumanya parfum, apapun mereknya dan berapapun harganya. Harum yang kurasakan kini memang sangat berbeda dari semua itu. harum yang begitu khas. Sekejap saja saat kulalaui jalanan berikutnya, di sebelah kakan-kiriku bertebaran warna putih bersih diantara hijaunya daun dan diatas untuaian cabang-cabang yang menjuntai membentuk seperti payung yang terbuka. Indah sekali. Ya, keharuman ini datang dari benda berwarna putih itu. Dan sepanjang jalan ini, suasana indah ini akan kurasakan sampai memasuki halaman rumahku. 10 km, kira-kira sisa jarak yang akan kulewati sampai rumahku. Keharuman yang hanya kurasakan tiap tahun sekali.
Benda putih itu, semerbaknya harum ini, semuanya telah ku akrabi sejak kecil. Meski cukup lama kutinggalkan, jauh, sampai ke pulau Jawa. Kini mulai akrab lagi di hidungku. Hidung anak Bali, Indonesia, yang pasti tak mancung. Namun masih sempurna dalam fungsinya sebagai indra penciuman. Dan waktu aku di seberang sana, di pulau Jawa, dalam masa pengembaraanku untuk menuntu ilmu dan menimba pengalaman, suasana ini tak pernah kurasakan dan tak akan pernah. Terkecuali saat-saat aku kembali pulang dikala libur tiba, itupun kalau aku samapi ke desaku dan bertepatan dengan waktunya tiba. Tapi semua itu sangat jarang terjadi. Sering kali aku berada di desa tidak bertepatan dengan waktu yang seperti sekarang ini. Waktunya desa dipenuhi semerbak harum dan taburan benda putih di sela-sela daun menghijau dan di atas tangkai-tangkai kecil menjuntai.
10 Oktober 2006, hari itu semua kenangan masa kecil dapat kurasakan kembali. Bukan hanya
itu, aku terpuaskan olehnya karena tak ada lagi waktu yang membatasiku untuk menikmati dan melewatkan semua itu. Satu hal yang sangat penting, semua yang kurasakan hari itu, yang ku lihat hari itu dan yang ku cium baunya hari itu adalah gambaran setahun kedepan. Karana dari hari ini, maka apa yang akan di capai tahun depan sudah dapat diramalkan, dan bahkan pasti demikian adanya. Dengan satu catatan Tuhan merestui anugrah itu. Restu itu akan dapat dipastikan jika dilengkapi dengan turunnya hujan meski hanya sehari saja. Karena hujan yang hanya sehari, nantinya sudah sangat cukup untuk menjadikan benda putih yang harum itu, tetap melekat di tangkai yang ditumpanginya dan pada akhirnya berubah warna dari hijau kemudian kekuningan dan berakhir dengan warna merah. Perubahan warna yang sangat indah dan semua berjalan seiring dengan waktu dan dengan interval yang sudah tetap adanya. Karena memang seperti itulah alam bekerja. Tak pernah ingkar janji dan tak pernah korusi waktu. Tapi sayangnya sapmai dua hari berikutnya hujan belum juga turun. Dan aku hanya bisa berdoa dan beharap semoga dia akan segera datang membasahi bumi. Untuk dapat memenuhi harapan tiap insan yang ada dalam lingkungan tersebut. Termasuk aku. Semoga.Kopi. Benda putih dengan harum semerbak itu berasal dari bunga kopi yang sedang mekar. Bunga yang mekar di hari ini dan hanya dapat di panen tahun depan. Semua keindahan dan keharuman yang kuraskan di sepanjang jalan berasal dari bunga kopi tersebut. yang tumbuh berjajar di sepanjang jalan lintas antar desa yang sedang ku lewati sai itu. Atau mungkin juga sebaliknya, jalan yang membelah perkebunan kopi tersebut. Daerah ini memang penghasil kopi sebagai tanaman utama. Meskipun diantara pohon-pohon kopi tersebut masih teselip jenis tanaman yang lainnya seperti Cengkeh, kakao, pisang, salak dan ada juga jeruk. Tapi tidak semua lahan perkebunan di desa ini melakukan tumpang sari seperti itu. Sehingga tetap saja pohon kopi-lah sebagi tanaman utama. Dengan kondisi ini maka tiap kali musim berbunga tiba maka harum semerbak dengan aroma khas itu akan selalu menyebar ke segala pelosok kawasan perkebunan tersebut. Pemandangan yang memutih :: dengan keharuman yang semerbak :: putih semerbak pembawa harapan di tahun depan. Semoga saja demikian adanya.
No comments:
Post a Comment